Ketika yang dulu tak bisa terlagu lagi..
apakah akupun harus berhenti mengalun?
Kemarin lalu kita masih melagu dalam pertemuan. Masih bercengkrama dengan mudah, tak lelah merangkulkan bahagia pada keadaan.
kawan... ketika aku tak bisa lagi rasai itu semua bersama kalian, hanya satu yang ku titipkan. Jangan kau lupakan yang dulu... tawa itu...
Tawa sendu diribu waktu itu...
Yang tak kusangka akan berlalu...
Sulit rasanya menerima perubahan orang terdekat kita. Namun aku egois bila katakan itu Sulit.
Semua orang berhak untuk berubah! Menang benar, dan disini... aku.. Aku harus mampu menerima semua itu. Menerima dalam Sepihak dengan ketakberpihakkan!
Yah aku tak mampu paksakan angin tuk tak berlalu, sebab ia mungkin miliki alur baru ditiap hembusnya. Hembusan yang begitu cepat, bahkan tak sempat ku tersenyum pada keabaiannya.
Entah apa yang membuat semuanya berlalu seperti abu... Adakah api itu aku?
Ingin aku menahan semuanya tuk tak berdebu, aku ingin bersihkan kembali tutupan debu itu. Izinkanlah meski hanya dengan sapuan sendu.
Aku Rindu semua kesan disore kemarin...
Disenja yang tak luput dari bahagia
Ketahuilah kawan, aku tak mau diam dalam keberlauan ini. Aku ingin yang dulu melagu, terus mengalun bersama dalam setiap waktu!
Ku mohon pahamilah...
Datanglah seperti senja kemarin
Yang berada antara pagi siang dan malamku... bersama dalam peraduaan
Mungkin terlalu banyak yang ku mulukkan..
Namun sungguh, aku hanya tak ingin kalian lupakan...
Saat ini aku meragukan pada sosok yang datang. Seolah mengambil alur ini. Menyelingap dalam kediamanku. Tak kukira sedekat dan secepat ini! Hingga aku yang terabai dikeadaan..
Akan kah kau lebih memilih badai yang buatku semakin terhempas ?
atau mengembalikan abaian ini menjadi keberhargaan?
Aku titipkan Rindu ku pada tetesan air yang menjemari di sore ini..
Teruntuk kawan yang ku rindukan keadaannya~