Originally Puput~

Jumat, 09 November 2012

Cahaya Hati

 CAHAYA HATI - OPICK

 
Allah engkau dekat

Penuh kasih sayang

Takkan pernah engkau
Biarkan hamba Mu menangis

Karna kemurahan Mu

Karna kasih sayang Mu

Hanya bila diri Mu
Ingin nyatakan cinta
Pada jiwa jiwa yang rela
Dia kekasih Mu

Kau yang selalu terjaga
Yang memberi segala

Allah Rohman Allah Rohim
Allahu Ya Ghofar Ya Nurul Qolbi
Allah Rohman Allah Rohim
Allahu Ya Ghofar Ya Nurul Qolbi

Di setiap nafas di segala waktu
Semua bersujud memuji memuja asthma Mu

Kau yang selalu terjaga
Yang memberi segala

Setiap makhluk bergantung padaMu
Dan bersujud semesta untuk Mu
Setiap wajah mendamba cinta Mu cahaya Mu 
 
 
 
 
Lirik yang membuatku terbuai Akan keMaha Baikkan Allah...
Ia dekat selalu dekat, Tak akan pernah Pergi tinggalkan kita. Percayalah :)

Sore Kemarin kawan...

 

Ketika yang dulu tak bisa terlagu lagi..
apakah akupun harus berhenti mengalun?

Kemarin lalu kita masih melagu dalam pertemuan. Masih bercengkrama dengan mudah, tak lelah merangkulkan bahagia pada keadaan.

kawan... ketika aku tak bisa lagi rasai itu semua bersama kalian, hanya satu yang ku titipkan. Jangan kau lupakan yang dulu... tawa itu...
Tawa sendu diribu waktu itu...
Yang tak kusangka akan berlalu...

Sulit rasanya menerima perubahan orang terdekat kita. Namun aku egois bila katakan itu Sulit.
Semua orang berhak untuk berubah! Menang benar, dan disini... aku.. Aku harus mampu menerima semua itu. Menerima dalam Sepihak dengan ketakberpihakkan!
Yah aku tak mampu paksakan angin tuk tak berlalu, sebab ia mungkin miliki alur baru ditiap hembusnya. Hembusan yang begitu cepat, bahkan tak sempat ku tersenyum pada keabaiannya.

Entah apa yang membuat semuanya berlalu seperti abu... Adakah api itu aku?
Ingin aku menahan semuanya tuk tak berdebu, aku ingin bersihkan kembali tutupan debu itu. Izinkanlah meski hanya dengan sapuan sendu. 

Aku Rindu semua kesan disore kemarin...
Disenja yang tak luput dari bahagia

Ketahuilah kawan, aku tak mau diam dalam keberlauan ini. Aku ingin yang dulu melagu, terus mengalun bersama dalam setiap waktu!

Ku mohon pahamilah...
Datanglah seperti senja kemarin
Yang berada antara pagi siang dan malamku... bersama dalam peraduaan

Mungkin terlalu banyak yang ku mulukkan..
Namun sungguh, aku hanya tak ingin kalian lupakan...

Saat ini aku meragukan pada sosok yang datang. Seolah mengambil alur ini. Menyelingap dalam kediamanku. Tak kukira sedekat dan secepat ini! Hingga aku yang terabai dikeadaan..

Akan kah kau lebih memilih badai yang buatku semakin terhempas ?
atau mengembalikan abaian ini menjadi keberhargaan?

Aku titipkan Rindu ku pada tetesan air yang menjemari di sore ini..
Teruntuk kawan yang ku rindukan keadaannya~


Kamis, 08 November 2012

Keberadaan berarti

Mungkin inilah caramu memaknai dan menyikapi apa yang  ada pada perbedaan.
Menghargai sesosok lembut yang menyerupai ibumu.. wanita.
Aku pahami itu.. ternampak merdu yang kurasai hingga kini. Tak menyinggung namun menyanjung arti

aku mulai merasai jelasnya...

Saat engkau lebih memilih tak tunjukkan hal sama pada yang menjadi sosokmu.
saat kau lebih memilih tuk berlembut hati padanya,

Tak buat ia merasa tersanggal akan keadaan dalam peraduan
Menyegani itu mungkin sedikit kurasai...
namun sungguh caramu itu membuat semuanya tertutupi dengan manis, namun aku memekainya.
Aku memekai pada apa yang termaknai, sebab itu yang menjadi urutan arti antara peradaan diri dan keadaan. engkau begitu memahaminya

memahami apa yang harus berjarak dan bersama.
Terimakasih tlah membuat keberadaan dikeadaan menjadi lebih berarti..

ku harap makna halusnya tulus mengelus~

Berbeda dengan Hari kemarin Rupanya

 
Berbeda dengan hari kemarin rupanya...
untain selubung indah itu tak kubaca lagi hari ini
kemana?
ketikan halus kemarin itu... ingatkah?
terselingkap rindu dimalamnya
Pun tertibun duka bagi aku yang menunggu
ada yang hadir rupanya...
membuatku ku lega
ku harap yang kemarin tak hilang
berupah upayanya untuk terangi malam aku yang menunggu
tetap tak hilang tak terselingkap apapun

Rabu, 07 November 2012

GARAM DAN TELAGA

# GARAM DAN TELAGA #

Suatu ketika, hiduplah seorang tua yang bijak. Pada suatu pagi, datanglah seorang anak muda yang sedang dirundung banyak masalah. Langkahnya gontai dan air muka yang ruwet. Tamu itu, memang tampak seperti orang yang ta

k bahagia.

Tanpa membuang waktu, orang itu menceritakan semua masalahnya. Pak Tua yang bijak, hanya mendengarkannya dengan seksama. Ia lalu mengambil segenggam
garam, dan meminta tamunya untuk mengambil segelas air. Ditaburkannya garam itu kedalam gelas, lalu diaduknya perlahan. “Coba, minum ini, dan katakan bagaimana rasanya..”, ujar Pak tua itu.

“Pahit. Pahit sekali”, jawab sang tamu, sambil meludah kesamping.

Pak Tua itu, sedikit tersenyum. Ia, lalu mengajak tamunya ini, untuk berjalan ke tepi telaga di dalam hutan dekat tempat tinggalnya. Kedua orang itu berjalan berdampingan, dan akhirnya sampailah mereka ke tepi telaga yang tenang itu.

Pak Tua itu, lalu kembali menaburkan segenggam garam, ke dalam telaga itu. Dengan sepotong kayu, dibuatnya gelombang mengaduk-aduk dan tercipta riak air, mengusik ketenangan telaga itu. “Coba, ambil air dari telaga ini, dan minumlah. Saat tamu itu selesai mereguk air itu, Pak Tua berkata lagi, “Bagaimana rasanya?”.

“Segar.”, sahut tamunya.
“Apakah kamu merasakan garam di dalam air itu?”, tanya Pak Tua lagi.
“Tidak”, jawab si anak muda.

Dengan bijak, Pak Tua itu menepuk-nepuk punggung si anak muda. Ia lalu mengajaknya duduk berhadapan, bersimpuh di samping telaga itu. “Anak muda, dengarlah. Pahitnya kehidupan, adalah layaknya segenggam garam, tak lebih dan tak kurang. Jumlah dan rasa pahit itu adalah sama, dan memang akan tetap sama.

“Tapi, kepahitan yang kita rasakan, akan sangat tergantung dari wadah yang kita miliki. Kepahitan itu, akan didasarkan dari perasaan tempat kita meletakkan segalanya. Itu semua akan tergantung pada hati kita. Jadi, saat kamu merasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup, hanya ada satu hal yang bisa kamu lakukan. Lapangkanlah dadamu menerima semuanya. Luaskanlah hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu.”

Pak Tua itu lalu kembali memberikan nasehat. “Hatimu, adalah wadah itu. Perasaanmu adalah tempat itu. Kalbumu, adalah tempat kamu menampung segalanya. Jadi, jangan jadikan hatimu itu seperti gelas, buatlah laksana telaga yang mampu meredam setiap kepahitan itu dan merubahnya menjadi kesegaran dan kebahagiaan.”
Keduanya lalu beranjak pulang. Mereka sama-sama belajar hari itu. Dan Pak Tua, si orang bijak itu, kembali menyimpan “segenggam garam”, untuk anak muda yang lain, yang sering datang padanya membawa keresahan jiwa.

باركــ اللّــــہ فـــــــيك