Entah harus dengan cara pandang aku melihatnya.
dengan radar positif tak begitu menjadi baik
dengan radar negatif tak begitu menjadi tak baik pula.
Aku disini. masih dengan semua paket yang tak pernah terkirimkan.
sudah ku bungkus dengan kertas kado tercerah, namun entah mengapa beberapa waktu lalu warna itu berubah. Buram. Tak cerah lagi.
Ku coba ganti dengan yang lebih cerah cerah, namun nyatanya tak mudah.
Tak mudah tuk temukan yang lebih cerah.
jika kau ada. Ada belahan hati yang meradang. Cukup dengan apa yang ada dikeadaan. tak lebih dari itu.
Karena nyatanya tak pernah terlihat. Meski banyak cahaya yang aku pancarkan.
Terlalu silaukah?
Tak ada yang perlu tersesali atas setiap keadaan. Semuanya pasti miliki maksud dan Hikmah :)
Originally Puput~
Kamis, 21 November 2013
Rabu, 13 November 2013
Iya kah?
Selalu ada keadaan yang membuat aku tetiba terenyuh.
Bukan, bukan ini yang aku inginkan.
Aku tak mau lagi terjebak asa ataupun logika yang hanya mampu membuat luka dulu singgah lagi!
Jikalah mengerti, tak banyak yang dapat ku jabarkan, jika kau mengulas sunggingan senyum itu kembali.
Tak bisa ku maknai dengan jujur arti sebenarnya delikkan tajammu itu.
Sudah! Seharusnya tak ada lagi yang harus aku ingat apalagi itu semua hanya membuat aku memanjakan kembali rasaku yang hampir meluruh ini.
Semua sudut. Setiap sudut. Mengapa selalu dan masih menggambarkan bayangmu?
menyajikan kiasan kisah dulu?
Apa ini hanya suguhan membenam?
Stelah aku menerimanya, aku dibawa lelap hingga tenggelam lagi? iya kah?!
Bukan, bukan ini yang aku inginkan.
Aku tak mau lagi terjebak asa ataupun logika yang hanya mampu membuat luka dulu singgah lagi!
Jikalah mengerti, tak banyak yang dapat ku jabarkan, jika kau mengulas sunggingan senyum itu kembali.
Tak bisa ku maknai dengan jujur arti sebenarnya delikkan tajammu itu.
Sudah! Seharusnya tak ada lagi yang harus aku ingat apalagi itu semua hanya membuat aku memanjakan kembali rasaku yang hampir meluruh ini.
Semua sudut. Setiap sudut. Mengapa selalu dan masih menggambarkan bayangmu?
menyajikan kiasan kisah dulu?
Apa ini hanya suguhan membenam?
Stelah aku menerimanya, aku dibawa lelap hingga tenggelam lagi? iya kah?!
Ketikan-
Jika dalam sebagian kisahku, kau masih tak luput jua,
Mampukan aku untuk tetap bisa menjaganya yaRabb. Menjaga agar semuanya tak akan
terjadi seperti kala dulu yang hampir buat aku merempuh sendiri.
Terpejamnya mata ini, ingin ungkap suatu pinta;
YaAllah, aku merindukannya, sangat.
Masih ada sebercik harapan,bahkan banyak agar ia kembali.
Tapi aku tahu yaRabb semua itu tak boleh lagi aku biarkan
terjadi.
Aku harus mampu berdiri meski hanya dengan aku. Tanpa dia.
Kini, biarlah aku kenang dia disepertiga malamku, denganMu
saja ya Rabb.
Mampukan aku untuk
bersimpuh dibagian terindah malam-Mu itu.
Izinkan…. Aku urai semua letih sendu sebab semuanya
Selainnya, aku pun rindu tertunduk sambil terisak disudut
malam.
Rabu, 25 September 2013
Sekilas tentang Kazakhstan-
Kazakhtstan, ruangan yang dihuni oleh sosok-sosok yang baru mengenal, bahkan baru bertemu dalam keadaan dimana dalam waktu kurang lebih 3 tahun di hunian kampus tercinta SMK Informatika Fitrhrah Insani akan bersama dengan tujuan menggapai cita.
Kami yang dikumpulkan dalam satu ruangan, mencoba lebih saling mengenal, saling memahami, menjalin kebersamaan abadi dalam ukhuwah yang baru kami mulai disini.
Mungkin bagi beberapa diantara kami ada yang sudah mengenal, namun untuk diriku sendiri, aku lebih baru mengenal mereka, sangat baru mungkin.
Meski baru sebulan dua bulan aku menimba ilmu di sekolah baru, sudah banyak hal yang sangat mengagumkan disela hari-hari baruku. Sudah banyak cerita yang ku dengar, banyak keadaan yang aku lihat dan aku rasakan,juga banyak hal baru yang ku dapatkan.
Semoga Kazakhsan selalu menjadi cerita....
Kami yang dikumpulkan dalam satu ruangan, mencoba lebih saling mengenal, saling memahami, menjalin kebersamaan abadi dalam ukhuwah yang baru kami mulai disini.
Mungkin bagi beberapa diantara kami ada yang sudah mengenal, namun untuk diriku sendiri, aku lebih baru mengenal mereka, sangat baru mungkin.
Meski baru sebulan dua bulan aku menimba ilmu di sekolah baru, sudah banyak hal yang sangat mengagumkan disela hari-hari baruku. Sudah banyak cerita yang ku dengar, banyak keadaan yang aku lihat dan aku rasakan,juga banyak hal baru yang ku dapatkan.
Semoga Kazakhsan selalu menjadi cerita....
Minggu, 22 September 2013
Yang kini~

Aku tak lagi melihat macam-macam rautan disorot tajamnya.
Dulu semua itu sempat membekas dengan penuh kegembiraan. Asa hati yang tak mampu tutupi rona merah bahagia. Meski kau dan aku berusaha untuk pura-pura tak melihat....
Ah andai apa yang kukatakan saat ini masih bisa terasakan.
Sempat, kau uraikan kata-kata manis nan elok pada siang cerah itu. Betapa membuat aku seperti melayang, menari indah dengan alunan rasamu...
kini, bukan maksudku untuk berharap dapat merasakannya lagi. Sebab aku terlalu menyadari keadaan yang berbeda dihari ini. Tetapi kau harus tahu bahwa akumenceritakannya dengan ketulusan hanya cerita. Bukan sandaran luapan rindu akan hal-hal manis itu, tak sepenuhnya seperti itu. Tenanglah... aku tak akan menyia-nyiakan apapun dari kiasanmu, atau berpendapat tak layak terdengar yang menyangkutmu.
Saat dimana aku begitu ingin
tersenyum untukmu
Selasa, 13 Agustus 2013
Tumpah Ruah Hari Ini

Foto hari ini, tepat waktu Kinantiana Ulang tahun.
Mengaduk rasa hari ini. Sebab baru lagi aku temui mereka sobat-sobat seperjuanganku di SMP. Tumpah ruah rinduku pada semua hal bersama mereka. Mereka yang ternyata masih seperti dulu. Dan aku yang sedikit berbeda. Sikapku tak rubah seperti kata mereka padaku jujur. Hanya saja penampilanku yang nampak sedikit berbeda. Ber-rok dan berkerudung lebar :)
Namu meski begitu, sama sekali tak ada canggung atau perbedaan antara kami. aku seperti biasa membaur menjadi satu dikeadaan bersama mereka. Menghidupkan kembali waktu yang sempat meredup dibulan-bulan lalu.
Hemm.... begitu perjumpaan yang kurindukan.
Semoga dapat Engkau pertemukan lagi kami YaRabb dalam naungan keadaan bersama yang indah. Dengan kelengkapan bahagia dan jiwa raganya.
Aku selalu berdo'a dan sangat berharap mereka yang sama 'kaum'nya denganku dapat sama pula penampilannya denganku. Semoga saat bertemu nanti, bisa hadir terijabah. Amiiin
Hanya-
Aku hanya mengira-ngira bahwa ini bukanlah penantian. Bukan keinginan untuk menunggu. Bukan harapan untuk didatangi. Bukan pula kecewaan ditinggal pergi.
Hanya itu.
Aku hanya... entah aku harus menyebutnya apa. Menurutmu, apa sebutan yang lebih tepat untuk hal yang kulakukan saat ini. Bersedia membuka hati terus-menerus untuk dia yang sekelebat singgah dan sekilat pergi. Aku membuka hati... membiarkan aku seolah menjadi 'selingan'. Aku yang membiarkannya!
Entah... Mengapa begitu sulit untuk tak menghiraukannya. Padahal tak pernah aku dapatkan ia apa-apa. aku hanya tetap dalam aku.
Ya Rabb... tolong jangan pernah hadirkan lagi apa yang dulu sempat menjadi getiranku.
Jangan pernah terhadir lagi ya Rabb... cukup hanya kala itu saja. jangan untuk kali ini lagi.
" Inilah akhirnya... harus kuakhiri...
Sebelum cintamu semakin dalam...."
Ah rasanya lirik itu begitu mengaduk seluruh rasaku yaRabb...
Hanya itu.
Aku hanya... entah aku harus menyebutnya apa. Menurutmu, apa sebutan yang lebih tepat untuk hal yang kulakukan saat ini. Bersedia membuka hati terus-menerus untuk dia yang sekelebat singgah dan sekilat pergi. Aku membuka hati... membiarkan aku seolah menjadi 'selingan'. Aku yang membiarkannya!
Entah... Mengapa begitu sulit untuk tak menghiraukannya. Padahal tak pernah aku dapatkan ia apa-apa. aku hanya tetap dalam aku.
Ya Rabb... tolong jangan pernah hadirkan lagi apa yang dulu sempat menjadi getiranku.
Jangan pernah terhadir lagi ya Rabb... cukup hanya kala itu saja. jangan untuk kali ini lagi.
" Inilah akhirnya... harus kuakhiri...
Sebelum cintamu semakin dalam...."
Ah rasanya lirik itu begitu mengaduk seluruh rasaku yaRabb...
Baca yah wahai Wanita :')
WANITA, BACA STATUS INI! DIJAMIN NGGAK NYESEL
Tulisan: Setia Furqon Kholid
Kalau pake jilbab nggak ada lelaki yang mau loh?
Iya, nggak ada lelaki jelalatan yang mau, hanya lelaki soleh yang langsung melamar.
Yah, loe pake baju lebar gitu, kaya ibu-ibu haji aja?
Alhamdulillah, semoga Allah mengabulkan untuk bisa ke tanah suci
Ngapain pake kerudung, kalau masih suka ngomongin orang?
Apalagi kalau nggak pake kerudung!
Ah, gua belum dapet hidayah, nanti aja kalau udah dapet baru pake hijab!
Hidayah itu dijemput Non, bukan ditunggu. Allah nggak akan ngubah nasib kita kalau nggak kita sendiri yang ngubahnya.
Pake jilbab lebar gitu panas tau? hiiiii...
Justru melindungi dari sinar ultraviolet, dan dalam penelitian melindungi dari kanker kulit yang biasa menyerang kulit wanita yang terbuka.
Pake celana jeans ngetat dong, biar keliatan seksi kaya para artis!
Update dong Sob, sekarang nih tren para artis pada pake jibab. Jadi siapa yang nggak gaul?
Tapi nanti pacar gua nggak suka?
Lebih baik dibenci pacar, tapi disayang Allah kan!
Nanti temen-temen malah ngejek, gimana?
Ajak aja mereka juga biar berhijab. Kan perintahnya Allah. Kalau masih diejek, cuek aja. Nabi aja yang jelas bener dihujat dan dicaci kok!
Semoga semua Sahabat Muslimah dimanapun berada diberikan hidayah dan keberanian untuk berhijab yang sesuai syari'at. Hingga mulia di hadapan Allah, bermartabat di hadapan manusia. Aamiin
Jika suka dengan status ini, mohon di-LIKE dan SHARE
Sahabatmu,
Setua Furqon Kholid
Tulisan: Setia Furqon Kholid
Kalau pake jilbab nggak ada lelaki yang mau loh?
Iya, nggak ada lelaki jelalatan yang mau, hanya lelaki soleh yang langsung melamar.
Yah, loe pake baju lebar gitu, kaya ibu-ibu haji aja?
Alhamdulillah, semoga Allah mengabulkan untuk bisa ke tanah suci
Ngapain pake kerudung, kalau masih suka ngomongin orang?
Apalagi kalau nggak pake kerudung!
Ah, gua belum dapet hidayah, nanti aja kalau udah dapet baru pake hijab!
Hidayah itu dijemput Non, bukan ditunggu. Allah nggak akan ngubah nasib kita kalau nggak kita sendiri yang ngubahnya.
Pake jilbab lebar gitu panas tau? hiiiii...
Justru melindungi dari sinar ultraviolet, dan dalam penelitian melindungi dari kanker kulit yang biasa menyerang kulit wanita yang terbuka.
Pake celana jeans ngetat dong, biar keliatan seksi kaya para artis!
Update dong Sob, sekarang nih tren para artis pada pake jibab. Jadi siapa yang nggak gaul?
Tapi nanti pacar gua nggak suka?
Lebih baik dibenci pacar, tapi disayang Allah kan!
Nanti temen-temen malah ngejek, gimana?
Ajak aja mereka juga biar berhijab. Kan perintahnya Allah. Kalau masih diejek, cuek aja. Nabi aja yang jelas bener dihujat dan dicaci kok!
Semoga semua Sahabat Muslimah dimanapun berada diberikan hidayah dan keberanian untuk berhijab yang sesuai syari'at. Hingga mulia di hadapan Allah, bermartabat di hadapan manusia. Aamiin
Jika suka dengan status ini, mohon di-LIKE dan SHARE
Sahabatmu,
Setua Furqon Kholid
Rabu, 26 Juni 2013
Karena Nyatanya

" Sekokoh-kokohnya gedung yang tinggi menjulang dan dibangun atas waktu berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun, bisa hancur begitu saja hanya dengan hitungan menit atau bahkan dalam sekejap mata!"
Kadang aku berpikir bahwa setiap perjuangan yang memakan waktu begitu lama dan diiringi dengan keteguhan untuk tak berhenti, akan selalu membawakan hasil seperti aku menjalani perjuangan itu. Hal yang diharapkan- akan sesuai dengan pemikiran dan atau bahkan ambisiku saat dan sebelum aku memulai setiap perjuangan itu.
Tapi apa nyatanya?
Terkadang orang berpikir bahwa logika akan lebih simple daripada perasaan. Dan logika akan lebih REALISTIS dibanding hanya sekedar perasaan. Apa yang sebenarnya terjadi dengan logika? Lebih tepatnya logika diriku sendiri.
Aku sudah cukup menahan diriku dengan segala logika yang aku buat hanya karena aku ingin memandang apapun itu dengan sudut pandang yang begitu SIMPLE dan TAK RUMIT SEDIKITPUN!
Tapi apa nyatanya? Logika seakan memakan perasaan yang seharusnya tak pernah tertelan oleh apapun itu.
Tanpa perasaan, aku tak bisa membawa firasat pada hatiku sendiri. Firasat yang setidaknya akan membuat aku lebih 'Mengetahui'. Meskipun itu hanya berupa tanda yang samar.
Hal yang banyak terjadi dihari kemarin adalah skenario Allah. Rencana yang tak pernah aku tahun akan menjadi hal apa nantinya.Tapi satu yang pasti bahwa itu pasti baik dan yang terbaik untukku. Memang tak mudah untuk menahan bermacam asa hati. Seperti kecewa yang perih. Itu memang manusiawi, semua orang bisa punyai rasa itu. Namun tak semua orang bisa menahannya. Membuatnya menjadi perasaan yang baik. Tapi bukan menahannya untuk tak lekas pergi dan hilang dari hati.
Karena nyatanya:
"Apa yang menurut kita Baik, belum tentu Baik dimata Allah. Dan apa yang menurut kita Buruk, belum tentu Buruk dimata Allah. Allah mengetahui sedang kita tak mengetahui"
Karena nyatanya;
"Kenyataan itu adalah hal yang harus selalu kita terima. Ini bukan lagi tentang apa yang masih diharapkan, namun tentang apa yang harus selalu kita terima."
"Baik atau buruknya bagi kita, hanya Allah yang tahu. Dan ketahuilah tak akan pernah ada Perjuangan yang Sia-sia. Karena yang sia-sia itu tak berartikan Perjuangan."
disamping tiitan hikmah yang masih dinanti
dalam kenyataan akan perjuangan yang sudah nyata
berbalut sukaria atas masih bisanya hati menahan asa
Sabtu, 22 Juni 2013
Terlewat banyak Moment!
Terlewat banyak moment itu rasanya sangat Miris!

Sungguh, hanya ada rasa tak karuan ketika semetinya kita berada dalam keeadaan itu namun kita tak ada. Melewatkan semuanya hanya dengan ketidak-hadiran diri dan atau mungkin saja ketak-diperlukannya diri.
Apa yang sebenernya menjadikan aku tak ada disanapun belum aku ketahui sepenuhnya. Memang sudah tak menjadi peduliku lagi kah? Atau aku yang sudah tak seharusnya peduli lagi? Apa sebenarnya?
Mengetahui banyak moment bahagia, konyol, kesan, perih serta duka itu... mirisnya mengiris. Sebab semua terlewati begitu saja, sedang 'kalian' seperti lupa aku!
Aku hanya ingin ada dikeadaan itu, dimana keadaan itu mungkin satu atau dua bulan lagi akan menjadi keadaan langka yang tak akan dengan mudah kita lewati lagi. Sebab sebentar lagi akan ada banyak jarak, banyak rubah, banyak beda dan akan ada pisah!
Salahkah jika aku inginkan keadaan dulu lagi?
Sudah cukup lama aku tak berteguran dengan sang kenangan
Sudah cukup lama aku tak bersentuhan dengan analogi hatiku sendiri
Sudah cukup lama semuanya berubah.... diriku selebihnya-
Apa yang sebenernya ebih mendominasi hati pun aku tak tahu... Entah apa yang sebenarnya lebih terasakan!
Senin, 13 Mei 2013
Ber(beda)
Ada yang berbeda dari penafsiranku kali ini. Mungkin kita memang berada pada jalur yang sejajar, sebut saja 'Perjuangan' namun berbeda tumpuan, berbeda jarak, berbeda pandangan, dan berbeda cerita.
Entah aku kau atau dia yang lebih memaknai ini. Namun yang perlu diketahui; Aku bersama dengan Perjuangan yang tulus.
Butuh waktu! Butuh Proses!
" Semua Rencana Allah itu pasti Baik. Pasti!"
Hidup ini adalah Proses; Segala sesuatu didalam kehidupan ini pasti membutuhkan proses. Tak ada yang instan. Begitupun dengan semua harap-mimpi-ingin dan semua yang ada dikehidupanku. Sekecil apapun atau sekilat apapun prosesnya, tetap itu adalah proses. Sebab tak ada suatu pencapaian besar yang didapat dengan tidak membutuhkan proses.Aku yakini itu;
"Sesungguhnya Allah lebih melihat Proses dari apa yang kamu kerjakan, bukan dari apa Hasilnya "
Aku sempat berpikir dan membayangkan bagaimana jika segala sesuatu yang ada didunia ini... Instan!
Sebagian anganku menyatakan semuanya akan sangat mudah dan pasti akan cepat aku dapatkan, namun disisi lain nalarku menyatakan bahwa jika segala sesuatu didunia ini instan, lalu untuk apa kita hidup? jika apapun yang kita mau sudah tersedia begitu saja tanpa perlu apa-apa. Bergunakah akal ini? Pikiran ini? Tubuh ini? dan semua hal didalam diri kita yang telah Allah ciptakan jika semuanya Instan?
Dari situ aku mengambil kesimpulan bahwa......
" Kalau Hidup ini serba Instan, berarti itu bukan Hidup!"
Bukankah Allah menciptakan kita didunia ini untuk menjadi khilafah, untuk beribadah dan berusaha agar mampu kembali lagi nanti dengan membawa banyak kebaikan, amal, pahala serta Ridha dariNya.
jika semuanya serba instan, lalu kapan ikhtiar/usaha itu ada dalam hidup kita? Setelah kita mati nanti? Yakin masih bisa? *istghfar
Terciptanya kehidupan inipun tak luput dari proses dan berbagai tahap. Jangan kira Allah menciptakan semuanya itu hanya dengan sekejap mata. Tentu tidak. Butuh waktu! Butuh Proses!
Nah, jika kita huungkan dengan mimpi, harapan serta keinginan kita dalam hidup ini. Tentunya sangat berhubungan dengan proses.
Banyak ikhtiar yang perlu dan harus kita lakukan untuk mewujudkannya. Jika kita nikmati setiap proses itu, tentu akan terasa lebih mudah lebih menyenangkan dan membuat kita tahu bahwa semua hal memang butuh perjuangan. Dengan tujuan baik semuanya insyaAllah akan menjadi baik juga
Aku tentunya banyak mengalami kejadian didalam hidup ini. Tak kupunghkiri lelahnya... penatnya dan hampir putusnya harapan ini. Namun aku pun belajar banyak hal dari semua kejadian itu. Meski sering aku terlambat menyadarinya. Namun percayalah, tak ada yang sia-sia dimata Allah. Apapun ikhtiar/usaha yang kita lakukan pasti Allah lihat dan Allah nilai... Berjuanglah terus. Lakukan yang terbaik.
Begitupun diriku ini....
Hidup ini adalah Proses; Segala sesuatu didalam kehidupan ini pasti membutuhkan proses. Tak ada yang instan. Begitupun dengan semua harap-mimpi-ingin dan semua yang ada dikehidupanku. Sekecil apapun atau sekilat apapun prosesnya, tetap itu adalah proses. Sebab tak ada suatu pencapaian besar yang didapat dengan tidak membutuhkan proses.Aku yakini itu;
"Sesungguhnya Allah lebih melihat Proses dari apa yang kamu kerjakan, bukan dari apa Hasilnya "
Aku sempat berpikir dan membayangkan bagaimana jika segala sesuatu yang ada didunia ini... Instan!
Sebagian anganku menyatakan semuanya akan sangat mudah dan pasti akan cepat aku dapatkan, namun disisi lain nalarku menyatakan bahwa jika segala sesuatu didunia ini instan, lalu untuk apa kita hidup? jika apapun yang kita mau sudah tersedia begitu saja tanpa perlu apa-apa. Bergunakah akal ini? Pikiran ini? Tubuh ini? dan semua hal didalam diri kita yang telah Allah ciptakan jika semuanya Instan?
Dari situ aku mengambil kesimpulan bahwa......
" Kalau Hidup ini serba Instan, berarti itu bukan Hidup!"
Bukankah Allah menciptakan kita didunia ini untuk menjadi khilafah, untuk beribadah dan berusaha agar mampu kembali lagi nanti dengan membawa banyak kebaikan, amal, pahala serta Ridha dariNya.
jika semuanya serba instan, lalu kapan ikhtiar/usaha itu ada dalam hidup kita? Setelah kita mati nanti? Yakin masih bisa? *istghfar
Terciptanya kehidupan inipun tak luput dari proses dan berbagai tahap. Jangan kira Allah menciptakan semuanya itu hanya dengan sekejap mata. Tentu tidak. Butuh waktu! Butuh Proses!
Nah, jika kita huungkan dengan mimpi, harapan serta keinginan kita dalam hidup ini. Tentunya sangat berhubungan dengan proses.
Banyak ikhtiar yang perlu dan harus kita lakukan untuk mewujudkannya. Jika kita nikmati setiap proses itu, tentu akan terasa lebih mudah lebih menyenangkan dan membuat kita tahu bahwa semua hal memang butuh perjuangan. Dengan tujuan baik semuanya insyaAllah akan menjadi baik juga
Aku tentunya banyak mengalami kejadian didalam hidup ini. Tak kupunghkiri lelahnya... penatnya dan hampir putusnya harapan ini. Namun aku pun belajar banyak hal dari semua kejadian itu. Meski sering aku terlambat menyadarinya. Namun percayalah, tak ada yang sia-sia dimata Allah. Apapun ikhtiar/usaha yang kita lakukan pasti Allah lihat dan Allah nilai... Berjuanglah terus. Lakukan yang terbaik.
Begitupun diriku ini....
Maaf, kalau tulisannya dianggap menggurui, put juga masih belajar. Apa yang put tulis diatas semuanya murni penyadaran diri. Lebih kepada nasihat untuk diri puput sendiri. Karena yah memang proses dan perjuangan itu selalu ada dalam hidup puput, begitupun kamu. :)
" Jangan pernah sia-siakan semua hal dihidup ini. Terlalu berharga semuanya jika hanya kau abaikan, kawan" :)
PUPUT APR
Kamis, 11 April 2013
Kepura-puraan Mengenalmu

"Aku tak ingin mengenalnya lagi. Biarlah aku tak mengenalnya!"
Ungkapan macam itu, sudah ku katakan pada mereka, namun siapa percaya. Tak ada!
Malah hujaman yang kudapat! Hujaman yang kebenarannya memanglah tak perlu dipertanyakan lagi.
"Sudah jelas aku tak bisa melakukannya. Aku mengenalnya dan hampir Terlalu mengenalnya!"
Beberapa waktu kucoba untuk menahan diri dari semua hal tentangnya.Sial! Tak ada satu waktu pun yang membuatku tak mengenalnya.
Dia, sosok itu. Terlalu lama aku menyimpannya dalam gudang memoriku. Bernuansakan kenangan yang teramat abu-abu. Beralaskan duri redam yang tak terlihat -dilihat olehnya. Berpapasan asa yang entah ia tahu ataukah pura-pura tak tahu. Behimpitkan suka senang diantara kesempitan keadaan: Merona.
Namun lama, lama aku bertempa pada sikapku sendiri. Aku yang seolah menganggapnya berubah. Namun apa nyatanya? diriku lah yang berubah dan seakan tak mau tahu bahwa keadaan nyatanya tak seperti itu!
Seberapa mampu aku "Pura-pura" tak mengenalnya? Barang hanya seujung kukupun rasanya terlalu berlebihan!
Kugenggam kembali hatiku dan sepaket rasa didalamnya. kurengkuh. Kusatukan! Sejenak......
Aku merenung, mencoba merasakan kembali semuanya, lebih menaburkan banyak bahagia yang ku buat sebenarnya. Agar aku mau terus merasakannya. Kucoba... sampai titik dimana waktu bergetar seolah mengusikku untuk larut padanya. Untuk tak cepat ber-ingkah. Yah.. aku terdiam bersamaan dengan setumpuk sesal kesal dan seserpih bahagia. Mereka kembali; dan aku kembali seperti ini.
Kuat...kuat... jangan ada tetesan lagi, jangan sampai aku turunkan hujan lagi dari alat pemandang ini.
Aku haruskan memulai kembali semuanya.
Terasa sangat cukup bila aku menopang kakiku hanya dengan tongkat rapuh lagi. Sudah.....
Kubuat aman semua rengkuhanku. Ku tegakkan lagi. Kuganti tongkat rapuh itu. Ku jadikan gudang yang lebih lapang bernuansan indah dan aku menjadi pengisi yang paling kokoh didalamnya.
"Karena aku harus mampu mengenalnya di berbagai kepura-puraan keadaan"
Tak usahlah membohongi keadaan
Tak yang harus kau sanggah dari keadaan
Bila memang kepura-puraanmu tak menipu hatimu
Luruhkanlah...
Siapkan hatimu untuk terus terang
Pada jiwa dan keadaanmu
Milikilah keadaan hingga kau tahu
bahwa dalam kepura-puraan pun
kau masih sanggup mengenalnya
dia, waktu, keadaan dan dirimu
Selasa, 02 April 2013
Menjejaki Cerita

Cerita ~
Apa yang pertama kali kau pikirkan ketika memaknai kata 'Cerita'?
Siapapun seharusnya berhak untuk bercerita. Cerita bisa termaknai dengan lisan atau tulisan. Layaknya kau memutar mengulang menyampaikan dan mengartikan tentang sesuatu hal. Adakah yang memaknai mungkin itu relatif. Tergantung bagaimana kita bercerita.
Cerita. Ulasan tentang sesuatu yang mungkin pernah kau dapati dalam hidupmu, atau sekedar melewati hidupmu, atau apapun itu.
"Aku ingin bercerita!" Yah mungkin begitulah ungkapan ketika kau ingin, merasa ingin atau bahkan sangat ingin untuk bercerita. Seperti jiwaku kini.
Aku mengenal dia mungkin tanpa batas keingintahuan. Namun bisakah semuanya terjawab begitu saja? Tentu tidak! Aku mungkin harus dengan menyanyakannya berulang kali, meyakinkannya untuk mau menjawab atau bahkan menunggu. Meski semuanya hanya karena aku ingin tahu dia. Simple!
Lembaran dalam diaryku juga hatiku layaknya episode pertarungan. Mana yang paling bertahan untuk aku ceritakan untuk aku tulis untuk aku ingat dan untuk aku abadikan. Ku mulai dengan tadinya menuliskan kisahku sendiri tanpa dia, kisah keluargaku tanpa dia, kisah persahabatanku tanpa dia dan terakhir kisahku dengan dia. (Kisahku dengan Allah tentu saja selalu ada disetiap kisah apapun itu. Mutlak)
Bisakah kau tebak mana kisah yang memenangkan pertarungan itu? -Pertarungan tentang cerita mana yang paling sering dan selalu dan tetap aku ceritakan-
Yang terakhir kusebut kisahnya; Kisahku dengan dia!
Aaaaaaah rasanya akuingin berteriak diruang hampa udara. Hahaha mungkinkah bisa? tak usah kau pikirkan apa jadinya lah~
Entah kapan aku berhenti menceritakannya. Berjuta rasanya itu Tentu. Tak ada cerita monoton disetiap kisahnya. Berwarna begitu....
Tapi mungkin seperti temanya 'cerita'. Yah mungkin hanya sebatas cerita saja tak menjadi apa-apa baginya. Bukan pesimis bukan! Tapi setidaknya aku tahu nyatanya memang seperti itu.
Saat ini rasanya begitu mengada-ngada bilang aku ceritakan bahgia dengan kisahnya. Aku berada disudut hati yang ditempa. Entah mengapa aku meraskan hatiku memang ditempa. Entah bagaimana itu, akupun tak tahu.
Ditempa dalam arti ada yang menghalangi menekan menolak apapun yang sebenarnya nyata aku rasakan. Entah seolah menjadi penahan atau bahkan penopang. saat ku dihinggapi sesak, tempaannya semakin keras hingga akhirnya aku tak merasai kesesakkan itu lagi. Hilang entah hampa.
Oh yah.. Pertarungan itu;
Aku ingat ada beberapa yang kucatat saaat aku bercerita di diaryku. Sangat banyak lebih tepatnya-
Pengungkapan atas lelahku, gejolak asaku, dan ikhlasku.
Yah sudahlah itu pengeluhan mungkin; Dan hanya yang aku rasakan tak dengan dia.

Setiap cerita itu miliki jejak.
Jejak yang memaknai betap berartinya semua cerita tentangmu ini.
cerita ii mungkin menyedihkan....
mungkin melelahkan....
dan tak pernah dia tahu...
Namun jangan kau coba halangi pijakkan ini. aku masih sangat membutuhkannya untuk mengenangmu dalam kesendirian waktu.
Biarlah aku jadikan cerita ini sebagai pijakkan rinduku...
sebagai langkah tegakku menawan engkau...
Jangan kau hapus jejaknya...
Biar cukup waktu yang menghapusnya..
Aku masih bergelantung dibalik bayangan itu;
Ceritaku yang masih berpijak padamu...
Disudut malam saat aku tyergelincir kenangan lagi
Jumat, 22 Maret 2013
Dibalik keadaan

Tuhan mungkin mengizinkan aku untuk lebih lama bersamanya. Diberbagai keadaan dan Waktu. Bersamanya yang lama. Bila aku sadari. Tak semuanya diberi hal ini. Aku yang seharusnya lebih mensyukuri atas kehadiran sosoknya disinggah hari.
Aku yang tak pernah terpaut jauh dengan jarak untuk menatapnya, mengucapkan banyak hal kepadanya bahkan menghadirkan sederet tawa dalam hari berdua. Aku yang begitu bebas melepas asa rindu ditiap delikkan matanya. Aku yang bisa secara singkat menyampaikan makna tersirat. Aku yang begitu mudah mengetahui apapun mimiknya. Apapun yang dilakukannya. Apapun yang dimilikinya. Meski bukan apapun yang ada dalam asanya. Namun aku, diizinkan untuk mampu memahami liukan-liukan asa hatinya.
Mungkin ini kebodohanku. Terlambat memahami bahwa ia tak pernah pergi. Dia yang begitu jelas selalu ada dihari-hari. yang begitu leluasa berdiri disamping diri. Ia yang tak pernah pergi. Namun, kemana aku selama ini?
Maafkan aku. Biarlah ini menjadi penyadaran dan penyesalanku sendiri. Karena memang kau tak akan mengerti terlampau jauh tentang makna dari semua ini. Namun aku tetap melihatmu adalah yang paling mengurai banyaknya bagian hidup dan hariku. terisi oleh banyak hal yang terlabuh dalam suguhan.
Aku teringat pada setiap dentingan hal kecil yang harusnya aku tatap dengan begitu detail. Aku maknai sepenuh hati bahwa ini bagian dari takdir yang telah mau mengikutiku. Ya Allah... betapa ia begitu begitu dan begitu!
Meski tak banyak isi hati yang sanggup untuk aku utarakan padanya. Meski banyak desiran rindu dibalik waktu. Meski banyak tetesan dipelupuk mata yang entah kapan akan ia tahui. Meski banyak goresan kata yang sampaikan terulur tak sengaja kepada yang bukan hatiku.
Namun aku memahami, tak mudah membuat ia terbiasa memaknai.
Mungkin jika dia tahu tak akan aku merasakan apa yang selalu ingin aku beritahu kepadanya.
Tuhan ingin aku berjuang!
Biarpun aku menitikkan banyak tetesan peluh, biarpun banyak ketakpastian yang mengeluhkan piluku. Aku yakin ini jalan juangku.
Disana, disudut ruang hatinya, yang entah kapan bisa terisi oleh padanan hatiku. Nyatanya sempat menghujatku cukup dalam. Kapan kapan dan kapan aku bisa rasai itu.
Ahh... apa ini? Ambisi kah? Egokah? Lelah?
dibalik jeruji harap
entah kapan kau tahu aku disini, mendampingi sisi tembokmu....
Rabu, 06 Februari 2013
Pergi...Kembali!
Tentu pasti ada yang pernah pergi dikehidupanmu.Entah itu yang sementara atau bahkan yang selamanya.
Pergi karena takdir ataukah pergi begitu saja? Oh tak ada yang tak miris dari ditinggalkan dan diabaikan~
Bila seseorang itu pergi dengan takdir yang membawanya tak akan pernah kembali. atau kematian begitu. Itu sudah menjadi mutlak kepergian.
Tetapi jika seseorang itu pergi dengan keadaan yang begitu saja kepadamu. atau mungkin pengabaian begitu. Itu tak menjadi asumsi bahwa ia tak akan kembali lagi. Dan kepergian itu bisa dikatakan tak mutlak.
Butuh kesabaran, butuh ketabahan, butuh keyakinan, butuh ketulusan, dan tentu butuh perjuangan untuk merelakan dan menerima kepergiaan.
Mengapa butuh kerelaan? tentu, sebab kepergian bisa kau tahu: adalah hal yang tak kau mau. Yang tak kau sangka akan terjadi begitu pilu. Karenanya hanyalah kerelaan yang mampu melepas pergi itu menjadi sesuatu yang tak kau nanti lagi. Pergi itu, hal yang tak perlu kau bahas lagi. Dan hal yang paling harus kau terima bilamana ia pergi bersama takdir: tak dengan keadaan.
Pergi dengan keadaan. Bisa diambisikan tak selamanya. Ada peluang bahkan jangkaun yang bisa kau perkirakan akan sejauh mana. Meskipun memang Frekuensinya tak akan pernah kau tahu. Seperti Matematic memang~
Mengapa begitu? Tak ada yang tahu kapan seseorang bisa berubah bahkan luluh. Mungkin ia acuh tak peduli bahkan keras kepadamu akibat kepergiaannya. Tapi Nanti? Mungkin itu yang disebut tak bisa terhitung frekuensinya.
Ia Mungkin Saja...... Kem-ba-li!
Mengapa harus menerima kepergiaan itu? Sebab tak ada yang bisa kau bandingkan dengan ketulusan dari menerima. Engkau menerima bukan berarti kau pasrah dan tak lakukan apapun. Jika memang ambisimu mengikuti keadaan. Kau mesti berjuang tentunya! Kau harus lakukan hal yang bahkan tak kau sangka untuk menuntaskan ambismu itu. keyakinan lebih tepatnya.
Pengharapan memang mungkin ternilai tak mengindahkan. Namun perjuangan dan keyakinan yang kau sebut penantian. Tak akan tak terindahkan bila kau lakukan dengan terus menerima dan rela. Ikhlas.
Keyakinan bahwa ia akan kembali lagi rasanya sulit terjamah, memang. Namun kemali lagi: "kau tak akan pernah tahu kapan seseorang bisa berubah dan luluh dimasa nanti"
Aku percaya pula bahwa keadaan tak akan selamnya sama. Bila keadaan dulu itu membuatnya pergi. Mungkin saja keaaan saat ini. Di Sa-at I-ni! Dapat membuatnya kembali datang!
Saat yang pergi begitu saja lalu tetiba Ia juga datang begitu saja kepadamu, Mungkin disitulah takdir dan keadaan sedang menyatu. Mereka membawamu pada titik baru dimana sesuatu yang dulu bisa kau rubah dengan belajar dari yang lalu.
Terimalah kepergiaanya!
Namun tak urung jua kau terima dan lebih- Kau Sambut kembalinya. Jangan kau sia-kan masa ketika Takdir bersama merentas jalan dengan keadaan.
Gandenglah Perjuangan dan penantianmu menuju keyakinan yang kembali. Bawalah ia dengan ketulusanmu.
Buatlah ia menyusuri keadaan bersama sampai kelak takdir yang benar-benar membawanya pergi. Selama-nya.
"Bila Suatu waktu kau kembali dikeadaan, biarlah kita gandeng Sang Takdir agar melaju bersama dengan kau dan aku."
Pergi karena takdir ataukah pergi begitu saja? Oh tak ada yang tak miris dari ditinggalkan dan diabaikan~
Bila seseorang itu pergi dengan takdir yang membawanya tak akan pernah kembali. atau kematian begitu. Itu sudah menjadi mutlak kepergian.
Tetapi jika seseorang itu pergi dengan keadaan yang begitu saja kepadamu. atau mungkin pengabaian begitu. Itu tak menjadi asumsi bahwa ia tak akan kembali lagi. Dan kepergian itu bisa dikatakan tak mutlak.
Butuh kesabaran, butuh ketabahan, butuh keyakinan, butuh ketulusan, dan tentu butuh perjuangan untuk merelakan dan menerima kepergiaan.
Mengapa butuh kerelaan? tentu, sebab kepergian bisa kau tahu: adalah hal yang tak kau mau. Yang tak kau sangka akan terjadi begitu pilu. Karenanya hanyalah kerelaan yang mampu melepas pergi itu menjadi sesuatu yang tak kau nanti lagi. Pergi itu, hal yang tak perlu kau bahas lagi. Dan hal yang paling harus kau terima bilamana ia pergi bersama takdir: tak dengan keadaan.
Pergi dengan keadaan. Bisa diambisikan tak selamanya. Ada peluang bahkan jangkaun yang bisa kau perkirakan akan sejauh mana. Meskipun memang Frekuensinya tak akan pernah kau tahu. Seperti Matematic memang~
Mengapa begitu? Tak ada yang tahu kapan seseorang bisa berubah bahkan luluh. Mungkin ia acuh tak peduli bahkan keras kepadamu akibat kepergiaannya. Tapi Nanti? Mungkin itu yang disebut tak bisa terhitung frekuensinya.
Ia Mungkin Saja...... Kem-ba-li!
Mengapa harus menerima kepergiaan itu? Sebab tak ada yang bisa kau bandingkan dengan ketulusan dari menerima. Engkau menerima bukan berarti kau pasrah dan tak lakukan apapun. Jika memang ambisimu mengikuti keadaan. Kau mesti berjuang tentunya! Kau harus lakukan hal yang bahkan tak kau sangka untuk menuntaskan ambismu itu. keyakinan lebih tepatnya.
Pengharapan memang mungkin ternilai tak mengindahkan. Namun perjuangan dan keyakinan yang kau sebut penantian. Tak akan tak terindahkan bila kau lakukan dengan terus menerima dan rela. Ikhlas.
Keyakinan bahwa ia akan kembali lagi rasanya sulit terjamah, memang. Namun kemali lagi: "kau tak akan pernah tahu kapan seseorang bisa berubah dan luluh dimasa nanti"
Aku percaya pula bahwa keadaan tak akan selamnya sama. Bila keadaan dulu itu membuatnya pergi. Mungkin saja keaaan saat ini. Di Sa-at I-ni! Dapat membuatnya kembali datang!
Saat yang pergi begitu saja lalu tetiba Ia juga datang begitu saja kepadamu, Mungkin disitulah takdir dan keadaan sedang menyatu. Mereka membawamu pada titik baru dimana sesuatu yang dulu bisa kau rubah dengan belajar dari yang lalu.
Terimalah kepergiaanya!
Namun tak urung jua kau terima dan lebih- Kau Sambut kembalinya. Jangan kau sia-kan masa ketika Takdir bersama merentas jalan dengan keadaan.
Gandenglah Perjuangan dan penantianmu menuju keyakinan yang kembali. Bawalah ia dengan ketulusanmu.
Buatlah ia menyusuri keadaan bersama sampai kelak takdir yang benar-benar membawanya pergi. Selama-nya.
"Bila Suatu waktu kau kembali dikeadaan, biarlah kita gandeng Sang Takdir agar melaju bersama dengan kau dan aku."
Jika Kau tahu!
Tak ada yang pupus disini!
Meski pernah terkikis
Namun aku siap merintis
Walau pernah aku mengemis gerimis
Agar membawa kau bersama hujan kembali
Jika Kau pahami
Aku hanya ingin duduk bersama dalam sandaran senja
Tak usah seperti yang lalu pun tak apa
namun dengan kau menyempat tuk menengoknyapun
Aku rela
JIka yang kau sadari
Tak seperti itu
Bawalah ragamu ke angan yang kau miliki saat ini
Sejak kita tak berungkap lagi
Saat kau menyuguhkan banyak kesan duri
Bilaman kau kembali
Tak akan kuharap lebih dari menanti
Kau menyemai lagipun
Aku bersunggut yakin
Kau pergi untuk Kembali
Februari 2013
Sabtu, 02 Februari 2013
Rindu Merdu
Malam ini, sosok itu masih menari-nari didalam ingatan
Bersua bersama kenangan dan kerinduan
Ada kah kau ingat aku saat ini? Yang entah apa bagimu!
Andai kau tahu, aku sebenarnya merasakan apa yang mungkin seharusnya tak ku rasakan.
Ingin aku memangilmu untuk bersama kembali ke penghujung uraian masa lampau beranjak ke seluruh masa datang. Jika ku mampu telah ku gandeng lenganmu tuk bersama menapakkinya. Beriringan dalam dampingan. Ahh..... tetapi kau hanya mimpi!
Kau Rindu, Pernahkah?
Rindu seperti yang sedang ku rasakan ini?
Seperti deretan jarum kecil di hamparan jerami? Tak terlihat namun sebenarnya ada. Hanya saja memang sulit tertemukan olehmu~
Bisakah kau merasainya?
Rindu yang bersua-sua tak henti. Marangkak membawa pedih yang tak pernah kau tahu!
Jika saja bisa ku uraikan. Akan ku hadirkan yang paling dalam, meski ini sudah teramat dalam, sayang!
jika takdir bisa membawamu datang kepadaku. Akuingin waktu bertoleransi dengan kau dan aku! Jangan trlalu cepat, ku mohon!
Rinduini teramat abstrak bila kau pahami. Tak bisa aku menjabarkannya, kepadsamu pun itu.
Namun jika Ada hati yang telah hadir, dirimu pasti mengerti bahkan akan jauh memahaminya.
Bersua bersama kenangan dan kerinduan
Ada kah kau ingat aku saat ini? Yang entah apa bagimu!
Andai kau tahu, aku sebenarnya merasakan apa yang mungkin seharusnya tak ku rasakan.
Ingin aku memangilmu untuk bersama kembali ke penghujung uraian masa lampau beranjak ke seluruh masa datang. Jika ku mampu telah ku gandeng lenganmu tuk bersama menapakkinya. Beriringan dalam dampingan. Ahh..... tetapi kau hanya mimpi!
Kau Rindu, Pernahkah?
Rindu seperti yang sedang ku rasakan ini?
Seperti deretan jarum kecil di hamparan jerami? Tak terlihat namun sebenarnya ada. Hanya saja memang sulit tertemukan olehmu~
Bisakah kau merasainya?
Rindu yang bersua-sua tak henti. Marangkak membawa pedih yang tak pernah kau tahu!
Jika saja bisa ku uraikan. Akan ku hadirkan yang paling dalam, meski ini sudah teramat dalam, sayang!
jika takdir bisa membawamu datang kepadaku. Akuingin waktu bertoleransi dengan kau dan aku! Jangan trlalu cepat, ku mohon!
Rinduini teramat abstrak bila kau pahami. Tak bisa aku menjabarkannya, kepadsamu pun itu.
Namun jika Ada hati yang telah hadir, dirimu pasti mengerti bahkan akan jauh memahaminya.
Rinduku ini memang bisu
Tak cukup untu kau tahu
Terukir sunyi dihati ini
dalam hingga musim terus berganti
Indah namun abstrak
menyebar hadirkan rasa yang semerbak
Melukis duka perih dan bahagia
bercampur dalam segenggam do'a
Tak memaksamu untuk tahu
Hanya ingin menjadi lirihan lagu
Yang meski sendu namun tak urung merdu
Bila kelak dihari nanti kau menanyainya
Percayalah akan ku jawab pasti adanya
Merindumu dengan merdu......
Tetaplah Tinggal!
Tak terpikir sebelumnya akan rasai hal ini lagi.
Entah keegoisan Entah ketakutan atau bahkan kesakitan!
Mata ini tak urung hadirkan banyak tetesan ketika ketahui hal itu. Tak habis pikir mengapa harus dengan dia ia memilih senyum!
Aku hanya berangkat dari ketegaran tanpa sadar bahwa semakin kurasai semakin ku tenggelam.
Ada yang harus ku pilih dan ku buktikan!
Dirinya harus tahu bahwa ketakutan ini adalah sejumput kasih yang terus mengembang dan tak akan meredam-
Aku berjalan bersama ketulusan meski keraguan selalu ada ditepian yang terkadang menghadang. Kerelaan akan kasih tulus yang terbagi.
Ketika dulu hanya untukku satu, hanya khususku, hanya denganku hanya milikku. Hingga sorot mata ini terbelalak ketika hadapi kejujuran yang terpaksa. Lewat permainan yang terikuti. Aku tahu!
Meski tak hinggap keyakinan yang penuh, namun jalur langkah menunjukkan padaku kebenarannya. Semua keterbagian rasa akan diriku dan sosok yang lain. Awalnya memang, Aku tak Percaya!
Sesosok lain itu kini telah mampu hadirkan banyak rasa untuk dirinya. Memberi banyak lukisan tawa dibibirnya. Memberi segenap kenyaman dalam benaknya. Yang dia anggap itu berbeda dengan diriku!
Masih kutanyai semuanya. Mengapa dirinya tak menyorot pada mata jalanan yang begitu dekat denganku. Mengapa berbeda?
Sedang dia begitu merasai semua perasaannya, tetpi saat aku pun ingin. Dia tak berikan. Dirinya seolah ingin berbalik terpaksa karena rasa yang aahhh.... ku pikir itu ego!
Dibalik dinding ketegaran ini, banyak kerapuhan yang lapuk. Terhinggapi banyaknya takut yang seolah tak ingin ia terenggut oleh rasa yang tak luput!
Namun aku sandarkan keberjuanganku disamping senyummu! Tak ingin aku memisahkan dua senyum didalam bahagia yang berbalik luka itu! I Will, Honey !!!!
Adakah selipan salah akan hamparan takut ini?
Adakah yang hanya miliki satu jawaban benar dari semua keraguan ini?
Aku inginkan kau tak jauhi aku dengan kebebasan. Saat diriupun tak bisa jaga tak terhingganya kebebasan hati yang ku berikan untukmu.
Cemburu dan haru tak sampai harus tertutup debu dalam beningnya kaca! Jujurlah!
Aku akui terlalu besarnya harapku agar kau tahu bahwa disini! Dihati dan dihampir setiap ruangnya telah terpenuhi oleh bingkai dirmu.
Mungkin diruang hatimu yang sampai saat ini tak begitu jelas ku ketahui apa saja yang mengisinya, ada secelah ruang untukku yang hanya secelahnya itupun ku tak mampu mengisinya dengan penuh. Aku tak bermaksud mengabaikannya!
Jika kau percaya dengan sebongkah batu kecil yang mampu bersinar didalam air. Mungkin bisa kau anggap Itulah keadaan dan kehadiranku.
Kau pikir, aku akan diam begitu saja ketika sadari suatu hari nanti kau akan pergi? menjuntai dibawah naungan kepedihan tanpa sepenggal kepastian. Sungguh aku tak mau!
Kelak akan ku pacu kuda-kuda hatiku untu berlari meleraimu. Akan ku kepakkan sayap-sayapku yang telah banyak sayatan nya ini untuk menggapimu. sadarkah engkau betapa aku tak ingin kau berlabuh pada dermaga hati lain.
Tetaplah berpijak didermaga hatiku ini, meski telah jauh dari banyak kenyamanan dari dermaga lainnya. ku mohon tetaplah tinggal! Temani aku menjejaki setiap labuhan-labuhan kehidupan bersamamu. Menghadang berjuta ombak meski aku yang harus terombang ambing! Menetaplah pada hatiku!
Entah keegoisan Entah ketakutan atau bahkan kesakitan!
Mata ini tak urung hadirkan banyak tetesan ketika ketahui hal itu. Tak habis pikir mengapa harus dengan dia ia memilih senyum!
Aku hanya berangkat dari ketegaran tanpa sadar bahwa semakin kurasai semakin ku tenggelam.
Ada yang harus ku pilih dan ku buktikan!
Dirinya harus tahu bahwa ketakutan ini adalah sejumput kasih yang terus mengembang dan tak akan meredam-
Aku berjalan bersama ketulusan meski keraguan selalu ada ditepian yang terkadang menghadang. Kerelaan akan kasih tulus yang terbagi.
Ketika dulu hanya untukku satu, hanya khususku, hanya denganku hanya milikku. Hingga sorot mata ini terbelalak ketika hadapi kejujuran yang terpaksa. Lewat permainan yang terikuti. Aku tahu!
Meski tak hinggap keyakinan yang penuh, namun jalur langkah menunjukkan padaku kebenarannya. Semua keterbagian rasa akan diriku dan sosok yang lain. Awalnya memang, Aku tak Percaya!
Sesosok lain itu kini telah mampu hadirkan banyak rasa untuk dirinya. Memberi banyak lukisan tawa dibibirnya. Memberi segenap kenyaman dalam benaknya. Yang dia anggap itu berbeda dengan diriku!
Masih kutanyai semuanya. Mengapa dirinya tak menyorot pada mata jalanan yang begitu dekat denganku. Mengapa berbeda?
Sedang dia begitu merasai semua perasaannya, tetpi saat aku pun ingin. Dia tak berikan. Dirinya seolah ingin berbalik terpaksa karena rasa yang aahhh.... ku pikir itu ego!
Dibalik dinding ketegaran ini, banyak kerapuhan yang lapuk. Terhinggapi banyaknya takut yang seolah tak ingin ia terenggut oleh rasa yang tak luput!
Namun aku sandarkan keberjuanganku disamping senyummu! Tak ingin aku memisahkan dua senyum didalam bahagia yang berbalik luka itu! I Will, Honey !!!!
Adakah selipan salah akan hamparan takut ini?
Adakah yang hanya miliki satu jawaban benar dari semua keraguan ini?
Aku inginkan kau tak jauhi aku dengan kebebasan. Saat diriupun tak bisa jaga tak terhingganya kebebasan hati yang ku berikan untukmu.
Cemburu dan haru tak sampai harus tertutup debu dalam beningnya kaca! Jujurlah!
Aku akui terlalu besarnya harapku agar kau tahu bahwa disini! Dihati dan dihampir setiap ruangnya telah terpenuhi oleh bingkai dirmu.
Mungkin diruang hatimu yang sampai saat ini tak begitu jelas ku ketahui apa saja yang mengisinya, ada secelah ruang untukku yang hanya secelahnya itupun ku tak mampu mengisinya dengan penuh. Aku tak bermaksud mengabaikannya!
Jika kau percaya dengan sebongkah batu kecil yang mampu bersinar didalam air. Mungkin bisa kau anggap Itulah keadaan dan kehadiranku.
Kau pikir, aku akan diam begitu saja ketika sadari suatu hari nanti kau akan pergi? menjuntai dibawah naungan kepedihan tanpa sepenggal kepastian. Sungguh aku tak mau!
Kelak akan ku pacu kuda-kuda hatiku untu berlari meleraimu. Akan ku kepakkan sayap-sayapku yang telah banyak sayatan nya ini untuk menggapimu. sadarkah engkau betapa aku tak ingin kau berlabuh pada dermaga hati lain.
Tetaplah berpijak didermaga hatiku ini, meski telah jauh dari banyak kenyamanan dari dermaga lainnya. ku mohon tetaplah tinggal! Temani aku menjejaki setiap labuhan-labuhan kehidupan bersamamu. Menghadang berjuta ombak meski aku yang harus terombang ambing! Menetaplah pada hatiku!
Jumat, 25 Januari 2013
Dalam Hujan dan Hujjatan
Gemaan Rintikkan hujan masih mendominasi keheningan tempat yang ku duduki saat ini. Lembaran kertas putih dihadapanku masih belum terisi apa apa, hanya pena bernuansa biru itu yang sejak entah berapa lama aku mainkan disela-sela jariku. ku putar, ku balik dan begitu seterusnya.
Mulut ini sesekali mendesah kesal, bahkan tetesan dipelupuk mata ini sempat tak urung ku tahan.
Ada semacam sesal, sebenak ingin, sederet luka, sebongkah rindu dan setulus sayang. semua berkecamuk ria di dalam hati dan pikiranku.
Mengingat kenangan saat aku tersenyum rekah bersamanya, membayangkan setiap pertemuan-pertemuan yang selalu takdir hadirkan untuk aku dan dia, kasih tulus yang sama-sama terpancar jelas dari mimik hangat kita berdua, kepekaan ataupun tidak yang menjadi perdebatan ataupun malah menjadi kerinduan, rasanya sulit untuk aku hilangkan dan aku lupakan begitu saja. Justru hasrat selalu ingin mengulangnya semakin menjadi-jadi diharapanku. Dan jelas semakin membuatku bimbang diambang-ambang!
Sebenarnya saat ini aku sedang berdebat dengan hatiku, dengan seluruh logika dan kenangan. Untuk memastikan, haruskah aku tetap mendiami kenyamanan ini atau bahkan pergi dengan langkah tak ingin jauh.
Jikalau saja aku boleh egois dalam hal ini, aku tak ingin memilih, tak ingin menjauh, tak ingin mendekat, tak ingin kehilangan, tak ingin melupakan, tak ingin tersakiti, tak ingin jatuh, tak ingin kecewa, tak ingin disalahkan, dan jelas tak ingin ada diposisi rumit ini!!!!
Sebenarnya aku ingin membuang semua ini jauh-jauh! agar tak ada lagi perih sakit dan kecewa.
Ingin ku akhiri semua perjuangan ini -teruntuk siapa diantaranya. Agar tak ada lagi kesia-siaan pengabaian dan ketidakpedulian. Ingin aku berhenti berlari. Agar aku tak lelah dan Haus lagi!!!
Aku ingin merasai lagi hati yang kosong! Damai! Tenang!
bermimpi seperti keadaan hatiku kala usiaku masih belia. Tak ada beban. Hanya kebahagiaan yang selalu ada, kecerian yang terus terpancar, kejujuran akan berbagai pilihan. Aah... rasanya indah bila takdir mengizinkan ku untuk kembali pada waktu aku masih kanak-kanak. sayangnya waktu terlalu cepat berlalu meninggalkan angan semuku. Waktu memang tak bertoleransi!
Mataku mulai sembab, pipiku terus sahutkan semburat merah. Aku masih berargumen dengan hati dan pikiranku.Kemanakah sebenarnya aku harus berpijak lagi?!
Perasaan ini makin bercampur aduk jelas tak menentu. Entah sudah berapa lama aku duduk termenung di meja belajarku. Hujan nyatanya semakin deras mengeras. Menindih di hamparan tanah-tanah. Waktu berangsur menuju senja. Pantas, ada bayangan yang kini terlihat jelas. Aah andai aku bisa berhenti!
Terus terang, bukannya aku ingin mengeluh ataupun menjadi Pecundang. Baiklah, cukup satu saja yang aku kemas menjadi harap-ingin disaat ini. aku hanya ingin hati ini ter-restart kembali.
Aku tak ingin merasakan apapun ketika tak mendapati ia dihadapanku! Tak ingin memikirkan apapun lagi tentang mereka. Tak tiba-tiba teringat banyak hal ketika temui bayangan kenangan itu lagi. Namun nyaris tak bisa aku seperti itu!
Tuhan... aku lelah!
Aku hanya ingin berdamai lagi dengan waktu dan keadaan
izinkan aku Tuhan...
Untuk tak memikirkan persoalan ini lagi
Sebelum aku bersiap untuk mulai menyadarinya
Mungkin aku lelah untuk saat ini
Tapi aku janji Tuhan..
Aku pasti memutuskannya
Bersamaan dengan kehendakMu
Bantu aku Tuhan...
Himpitan kepastian dan Pilihan ini
sangat membuatku sesak!
Mampukan aku menerjemahkan semua rencanaMu
Aku ingin bisa terus Yakin Tuhan...
Yakinkan lah Hati jiwa dan pikiran ini!
Biarkan Kami berdamai....
Selasa, 22 Januari 2013
Senin, 21 Januari 2013
Ingin Bercerita Tentang Sosok itu #2
Mengapa ia masih berdiri?
Padahal banyak tempat tersedia untuk ia singgahi
Dia, sosok itu!
aku belum tahu apa yang sebenarnya ingin kau tahu dari semua ini. Mungkinkah karena rasa yang masih tak bisa kau hilangkan? ataukah karena ambisi yang tak mau kau goyahkan?
Lama, cukup lama aku ketahuimu, namun memang masih sebentar aku mengenalmu.
Dekat, sudah lama aku berada di kedekatan jarak denganmu, namun bersama dalam kedekatan hati baru kurasai akhir-akhir ini.
Juang, entah darimana aku berjuang. Serasa telah terhenti saat ini
Ingin ku ceritakan sosok itu!
Dia masa lalu yang ada di masa kini.
Yang telah melubangi banyak waktu dengan pengabaian nya sendiri
Sosok yang hadir dikala hati telah mampu mengenali sosok yang lain.
Ceritanya masih ada...
Padahal banyak tempat tersedia untuk ia singgahi
Dia, sosok itu!
aku belum tahu apa yang sebenarnya ingin kau tahu dari semua ini. Mungkinkah karena rasa yang masih tak bisa kau hilangkan? ataukah karena ambisi yang tak mau kau goyahkan?
Lama, cukup lama aku ketahuimu, namun memang masih sebentar aku mengenalmu.
Dekat, sudah lama aku berada di kedekatan jarak denganmu, namun bersama dalam kedekatan hati baru kurasai akhir-akhir ini.
Juang, entah darimana aku berjuang. Serasa telah terhenti saat ini
Ingin ku ceritakan sosok itu!
Dia masa lalu yang ada di masa kini.
Yang telah melubangi banyak waktu dengan pengabaian nya sendiri
Sosok yang hadir dikala hati telah mampu mengenali sosok yang lain.
Ceritanya masih ada...
Ingin Bercerita Tentang Sosok itu #1
ingin bercerita tentang sosok itu!
Mengapa ia tak pergi?
Bukankah senja masih lama?
sebab ini mungkin masih siang.
Mengapa ia masih menemaniku?
Padahal hujan sudah membasahinya sedari tadi
Mengapa ia tak berlari?
Padahal berjalan telah menghabiskan deretan waktunya
mungkinkah ini perjuanganmu?
Mengapa ia tak pergi?
Bukankah senja masih lama?
sebab ini mungkin masih siang.
Mengapa ia masih menemaniku?
Padahal hujan sudah membasahinya sedari tadi
Mengapa ia tak berlari?
Padahal berjalan telah menghabiskan deretan waktunya
mungkinkah ini perjuanganmu?
Selasa, 01 Januari 2013
Detikkan Pengabai-an Mu!
Kau tak menghiasai hariku diawal tahun ini dengan pesan-pesan singkatmu.
Aku hancur sesungguhnya!
kau tak mengindahkan rinduku. Malah mungkin jauh mengabaikannya
Kau tak menjejaki sedikitpun hal kemarin
saat kau begitu ingini tapakkan tapakkan hatiku agar melangkah melaluimu.
Kau tak sadari betapa berat awal tapakkanku sebabsakitnya masa lalu
Namun saat ku tlah coba menaungi beratnya; aku sadar aku terlalu jauh menapakkinya.
Hingga langkahku habis ditelan oleh abai-an mu.
Seketika akui sadar meski tak menyadari
Ku coba diami semuanya. Tak mengharap ppesan tersingkatmu itu.
Tak ku tebak. Nyatanya kau meremehkan beratnya tapakkan hatiku untuk melangkah.
Kau anggap semuanya begitu mudah bagimu!
Kau tahu? Aku bersusah melupakan masa lalu yang dihias penuh hitam-gelapnya luka yang kau beri pada hati
Aku lupakan 'tuk ringani tapakkan agar aku bisa menvoba melangkah menuju mu
Sampai batas batas dimana ketidak-pastian menjerat aku yang telah terjebak!
Aku tahu tak ada hal yang mendekap seluruh makna kata; Selalu
aku yakin kau berpindah lebih dari yang ku kira, dulu!
Pergi mengendam perih murni
Tak harapku bisa kau sadari
Pengacuhanmu buatku habis dalam detik genggaman mu!
Langganan:
Komentar (Atom)


