
Cerita ~
Apa yang pertama kali kau pikirkan ketika memaknai kata 'Cerita'?
Siapapun seharusnya berhak untuk bercerita. Cerita bisa termaknai dengan lisan atau tulisan. Layaknya kau memutar mengulang menyampaikan dan mengartikan tentang sesuatu hal. Adakah yang memaknai mungkin itu relatif. Tergantung bagaimana kita bercerita.
Cerita. Ulasan tentang sesuatu yang mungkin pernah kau dapati dalam hidupmu, atau sekedar melewati hidupmu, atau apapun itu.
"Aku ingin bercerita!" Yah mungkin begitulah ungkapan ketika kau ingin, merasa ingin atau bahkan sangat ingin untuk bercerita. Seperti jiwaku kini.
Aku mengenal dia mungkin tanpa batas keingintahuan. Namun bisakah semuanya terjawab begitu saja? Tentu tidak! Aku mungkin harus dengan menyanyakannya berulang kali, meyakinkannya untuk mau menjawab atau bahkan menunggu. Meski semuanya hanya karena aku ingin tahu dia. Simple!
Lembaran dalam diaryku juga hatiku layaknya episode pertarungan. Mana yang paling bertahan untuk aku ceritakan untuk aku tulis untuk aku ingat dan untuk aku abadikan. Ku mulai dengan tadinya menuliskan kisahku sendiri tanpa dia, kisah keluargaku tanpa dia, kisah persahabatanku tanpa dia dan terakhir kisahku dengan dia. (Kisahku dengan Allah tentu saja selalu ada disetiap kisah apapun itu. Mutlak)
Bisakah kau tebak mana kisah yang memenangkan pertarungan itu? -Pertarungan tentang cerita mana yang paling sering dan selalu dan tetap aku ceritakan-
Yang terakhir kusebut kisahnya; Kisahku dengan dia!
Aaaaaaah rasanya akuingin berteriak diruang hampa udara. Hahaha mungkinkah bisa? tak usah kau pikirkan apa jadinya lah~
Entah kapan aku berhenti menceritakannya. Berjuta rasanya itu Tentu. Tak ada cerita monoton disetiap kisahnya. Berwarna begitu....
Tapi mungkin seperti temanya 'cerita'. Yah mungkin hanya sebatas cerita saja tak menjadi apa-apa baginya. Bukan pesimis bukan! Tapi setidaknya aku tahu nyatanya memang seperti itu.
Saat ini rasanya begitu mengada-ngada bilang aku ceritakan bahgia dengan kisahnya. Aku berada disudut hati yang ditempa. Entah mengapa aku meraskan hatiku memang ditempa. Entah bagaimana itu, akupun tak tahu.
Ditempa dalam arti ada yang menghalangi menekan menolak apapun yang sebenarnya nyata aku rasakan. Entah seolah menjadi penahan atau bahkan penopang. saat ku dihinggapi sesak, tempaannya semakin keras hingga akhirnya aku tak merasai kesesakkan itu lagi. Hilang entah hampa.
Oh yah.. Pertarungan itu;
Aku ingat ada beberapa yang kucatat saaat aku bercerita di diaryku. Sangat banyak lebih tepatnya-
Pengungkapan atas lelahku, gejolak asaku, dan ikhlasku.
Yah sudahlah itu pengeluhan mungkin; Dan hanya yang aku rasakan tak dengan dia.

Setiap cerita itu miliki jejak.
Jejak yang memaknai betap berartinya semua cerita tentangmu ini.
cerita ii mungkin menyedihkan....
mungkin melelahkan....
dan tak pernah dia tahu...
Namun jangan kau coba halangi pijakkan ini. aku masih sangat membutuhkannya untuk mengenangmu dalam kesendirian waktu.
Biarlah aku jadikan cerita ini sebagai pijakkan rinduku...
sebagai langkah tegakku menawan engkau...
Jangan kau hapus jejaknya...
Biar cukup waktu yang menghapusnya..
Aku masih bergelantung dibalik bayangan itu;
Ceritaku yang masih berpijak padamu...
Disudut malam saat aku tyergelincir kenangan lagi