Gemaan Rintikkan hujan masih mendominasi keheningan tempat yang ku duduki saat ini. Lembaran kertas putih dihadapanku masih belum terisi apa apa, hanya pena bernuansa biru itu yang sejak entah berapa lama aku mainkan disela-sela jariku. ku putar, ku balik dan begitu seterusnya.
Mulut ini sesekali mendesah kesal, bahkan tetesan dipelupuk mata ini sempat tak urung ku tahan.
Ada semacam sesal, sebenak ingin, sederet luka, sebongkah rindu dan setulus sayang. semua berkecamuk ria di dalam hati dan pikiranku.
Mengingat kenangan saat aku tersenyum rekah bersamanya, membayangkan setiap pertemuan-pertemuan yang selalu takdir hadirkan untuk aku dan dia, kasih tulus yang sama-sama terpancar jelas dari mimik hangat kita berdua, kepekaan ataupun tidak yang menjadi perdebatan ataupun malah menjadi kerinduan, rasanya sulit untuk aku hilangkan dan aku lupakan begitu saja. Justru hasrat selalu ingin mengulangnya semakin menjadi-jadi diharapanku. Dan jelas semakin membuatku bimbang diambang-ambang!
Sebenarnya saat ini aku sedang berdebat dengan hatiku, dengan seluruh logika dan kenangan. Untuk memastikan, haruskah aku tetap mendiami kenyamanan ini atau bahkan pergi dengan langkah tak ingin jauh.
Jikalau saja aku boleh egois dalam hal ini, aku tak ingin memilih, tak ingin menjauh, tak ingin mendekat, tak ingin kehilangan, tak ingin melupakan, tak ingin tersakiti, tak ingin jatuh, tak ingin kecewa, tak ingin disalahkan, dan jelas tak ingin ada diposisi rumit ini!!!!
Sebenarnya aku ingin membuang semua ini jauh-jauh! agar tak ada lagi perih sakit dan kecewa.
Ingin ku akhiri semua perjuangan ini -teruntuk siapa diantaranya. Agar tak ada lagi kesia-siaan pengabaian dan ketidakpedulian. Ingin aku berhenti berlari. Agar aku tak lelah dan Haus lagi!!!
Aku ingin merasai lagi hati yang kosong! Damai! Tenang!
bermimpi seperti keadaan hatiku kala usiaku masih belia. Tak ada beban. Hanya kebahagiaan yang selalu ada, kecerian yang terus terpancar, kejujuran akan berbagai pilihan. Aah... rasanya indah bila takdir mengizinkan ku untuk kembali pada waktu aku masih kanak-kanak. sayangnya waktu terlalu cepat berlalu meninggalkan angan semuku. Waktu memang tak bertoleransi!
Mataku mulai sembab, pipiku terus sahutkan semburat merah. Aku masih berargumen dengan hati dan pikiranku.Kemanakah sebenarnya aku harus berpijak lagi?!
Perasaan ini makin bercampur aduk jelas tak menentu. Entah sudah berapa lama aku duduk termenung di meja belajarku. Hujan nyatanya semakin deras mengeras. Menindih di hamparan tanah-tanah. Waktu berangsur menuju senja. Pantas, ada bayangan yang kini terlihat jelas. Aah andai aku bisa berhenti!
Terus terang, bukannya aku ingin mengeluh ataupun menjadi Pecundang. Baiklah, cukup satu saja yang aku kemas menjadi harap-ingin disaat ini. aku hanya ingin hati ini ter-restart kembali.
Aku tak ingin merasakan apapun ketika tak mendapati ia dihadapanku! Tak ingin memikirkan apapun lagi tentang mereka. Tak tiba-tiba teringat banyak hal ketika temui bayangan kenangan itu lagi. Namun nyaris tak bisa aku seperti itu!
Tuhan... aku lelah!
Aku hanya ingin berdamai lagi dengan waktu dan keadaan
izinkan aku Tuhan...
Untuk tak memikirkan persoalan ini lagi
Sebelum aku bersiap untuk mulai menyadarinya
Mungkin aku lelah untuk saat ini
Tapi aku janji Tuhan..
Aku pasti memutuskannya
Bersamaan dengan kehendakMu
Bantu aku Tuhan...
Himpitan kepastian dan Pilihan ini
sangat membuatku sesak!
Mampukan aku menerjemahkan semua rencanaMu
Aku ingin bisa terus Yakin Tuhan...
Yakinkan lah Hati jiwa dan pikiran ini!
Biarkan Kami berdamai....

