
"Aku tak ingin mengenalnya lagi. Biarlah aku tak mengenalnya!"
Ungkapan macam itu, sudah ku katakan pada mereka, namun siapa percaya. Tak ada!
Malah hujaman yang kudapat! Hujaman yang kebenarannya memanglah tak perlu dipertanyakan lagi.
"Sudah jelas aku tak bisa melakukannya. Aku mengenalnya dan hampir Terlalu mengenalnya!"
Beberapa waktu kucoba untuk menahan diri dari semua hal tentangnya.Sial! Tak ada satu waktu pun yang membuatku tak mengenalnya.
Dia, sosok itu. Terlalu lama aku menyimpannya dalam gudang memoriku. Bernuansakan kenangan yang teramat abu-abu. Beralaskan duri redam yang tak terlihat -dilihat olehnya. Berpapasan asa yang entah ia tahu ataukah pura-pura tak tahu. Behimpitkan suka senang diantara kesempitan keadaan: Merona.
Namun lama, lama aku bertempa pada sikapku sendiri. Aku yang seolah menganggapnya berubah. Namun apa nyatanya? diriku lah yang berubah dan seakan tak mau tahu bahwa keadaan nyatanya tak seperti itu!
Seberapa mampu aku "Pura-pura" tak mengenalnya? Barang hanya seujung kukupun rasanya terlalu berlebihan!
Kugenggam kembali hatiku dan sepaket rasa didalamnya. kurengkuh. Kusatukan! Sejenak......
Aku merenung, mencoba merasakan kembali semuanya, lebih menaburkan banyak bahagia yang ku buat sebenarnya. Agar aku mau terus merasakannya. Kucoba... sampai titik dimana waktu bergetar seolah mengusikku untuk larut padanya. Untuk tak cepat ber-ingkah. Yah.. aku terdiam bersamaan dengan setumpuk sesal kesal dan seserpih bahagia. Mereka kembali; dan aku kembali seperti ini.
Kuat...kuat... jangan ada tetesan lagi, jangan sampai aku turunkan hujan lagi dari alat pemandang ini.
Aku haruskan memulai kembali semuanya.
Terasa sangat cukup bila aku menopang kakiku hanya dengan tongkat rapuh lagi. Sudah.....
Kubuat aman semua rengkuhanku. Ku tegakkan lagi. Kuganti tongkat rapuh itu. Ku jadikan gudang yang lebih lapang bernuansan indah dan aku menjadi pengisi yang paling kokoh didalamnya.
"Karena aku harus mampu mengenalnya di berbagai kepura-puraan keadaan"
Tak usahlah membohongi keadaan
Tak yang harus kau sanggah dari keadaan
Bila memang kepura-puraanmu tak menipu hatimu
Luruhkanlah...
Siapkan hatimu untuk terus terang
Pada jiwa dan keadaanmu
Milikilah keadaan hingga kau tahu
bahwa dalam kepura-puraan pun
kau masih sanggup mengenalnya
dia, waktu, keadaan dan dirimu