Pergi karena takdir ataukah pergi begitu saja? Oh tak ada yang tak miris dari ditinggalkan dan diabaikan~
Bila seseorang itu pergi dengan takdir yang membawanya tak akan pernah kembali. atau kematian begitu. Itu sudah menjadi mutlak kepergian.
Tetapi jika seseorang itu pergi dengan keadaan yang begitu saja kepadamu. atau mungkin pengabaian begitu. Itu tak menjadi asumsi bahwa ia tak akan kembali lagi. Dan kepergian itu bisa dikatakan tak mutlak.
Butuh kesabaran, butuh ketabahan, butuh keyakinan, butuh ketulusan, dan tentu butuh perjuangan untuk merelakan dan menerima kepergiaan.
Mengapa butuh kerelaan? tentu, sebab kepergian bisa kau tahu: adalah hal yang tak kau mau. Yang tak kau sangka akan terjadi begitu pilu. Karenanya hanyalah kerelaan yang mampu melepas pergi itu menjadi sesuatu yang tak kau nanti lagi. Pergi itu, hal yang tak perlu kau bahas lagi. Dan hal yang paling harus kau terima bilamana ia pergi bersama takdir: tak dengan keadaan.
Pergi dengan keadaan. Bisa diambisikan tak selamanya. Ada peluang bahkan jangkaun yang bisa kau perkirakan akan sejauh mana. Meskipun memang Frekuensinya tak akan pernah kau tahu. Seperti Matematic memang~
Mengapa begitu? Tak ada yang tahu kapan seseorang bisa berubah bahkan luluh. Mungkin ia acuh tak peduli bahkan keras kepadamu akibat kepergiaannya. Tapi Nanti? Mungkin itu yang disebut tak bisa terhitung frekuensinya.
Ia Mungkin Saja...... Kem-ba-li!
Mengapa harus menerima kepergiaan itu? Sebab tak ada yang bisa kau bandingkan dengan ketulusan dari menerima. Engkau menerima bukan berarti kau pasrah dan tak lakukan apapun. Jika memang ambisimu mengikuti keadaan. Kau mesti berjuang tentunya! Kau harus lakukan hal yang bahkan tak kau sangka untuk menuntaskan ambismu itu. keyakinan lebih tepatnya.
Pengharapan memang mungkin ternilai tak mengindahkan. Namun perjuangan dan keyakinan yang kau sebut penantian. Tak akan tak terindahkan bila kau lakukan dengan terus menerima dan rela. Ikhlas.
Keyakinan bahwa ia akan kembali lagi rasanya sulit terjamah, memang. Namun kemali lagi: "kau tak akan pernah tahu kapan seseorang bisa berubah dan luluh dimasa nanti"
Aku percaya pula bahwa keadaan tak akan selamnya sama. Bila keadaan dulu itu membuatnya pergi. Mungkin saja keaaan saat ini. Di Sa-at I-ni! Dapat membuatnya kembali datang!
Saat yang pergi begitu saja lalu tetiba Ia juga datang begitu saja kepadamu, Mungkin disitulah takdir dan keadaan sedang menyatu. Mereka membawamu pada titik baru dimana sesuatu yang dulu bisa kau rubah dengan belajar dari yang lalu.
Terimalah kepergiaanya!
Namun tak urung jua kau terima dan lebih- Kau Sambut kembalinya. Jangan kau sia-kan masa ketika Takdir bersama merentas jalan dengan keadaan.
Gandenglah Perjuangan dan penantianmu menuju keyakinan yang kembali. Bawalah ia dengan ketulusanmu.
Buatlah ia menyusuri keadaan bersama sampai kelak takdir yang benar-benar membawanya pergi. Selama-nya.
"Bila Suatu waktu kau kembali dikeadaan, biarlah kita gandeng Sang Takdir agar melaju bersama dengan kau dan aku."
Jika Kau tahu!
Tak ada yang pupus disini!
Meski pernah terkikis
Namun aku siap merintis
Walau pernah aku mengemis gerimis
Agar membawa kau bersama hujan kembali
Jika Kau pahami
Aku hanya ingin duduk bersama dalam sandaran senja
Tak usah seperti yang lalu pun tak apa
namun dengan kau menyempat tuk menengoknyapun
Aku rela
JIka yang kau sadari
Tak seperti itu
Bawalah ragamu ke angan yang kau miliki saat ini
Sejak kita tak berungkap lagi
Saat kau menyuguhkan banyak kesan duri
Bilaman kau kembali
Tak akan kuharap lebih dari menanti
Kau menyemai lagipun
Aku bersunggut yakin
Kau pergi untuk Kembali
Februari 2013