
Tuhan mungkin mengizinkan aku untuk lebih lama bersamanya. Diberbagai keadaan dan Waktu. Bersamanya yang lama. Bila aku sadari. Tak semuanya diberi hal ini. Aku yang seharusnya lebih mensyukuri atas kehadiran sosoknya disinggah hari.
Aku yang tak pernah terpaut jauh dengan jarak untuk menatapnya, mengucapkan banyak hal kepadanya bahkan menghadirkan sederet tawa dalam hari berdua. Aku yang begitu bebas melepas asa rindu ditiap delikkan matanya. Aku yang bisa secara singkat menyampaikan makna tersirat. Aku yang begitu mudah mengetahui apapun mimiknya. Apapun yang dilakukannya. Apapun yang dimilikinya. Meski bukan apapun yang ada dalam asanya. Namun aku, diizinkan untuk mampu memahami liukan-liukan asa hatinya.
Mungkin ini kebodohanku. Terlambat memahami bahwa ia tak pernah pergi. Dia yang begitu jelas selalu ada dihari-hari. yang begitu leluasa berdiri disamping diri. Ia yang tak pernah pergi. Namun, kemana aku selama ini?
Maafkan aku. Biarlah ini menjadi penyadaran dan penyesalanku sendiri. Karena memang kau tak akan mengerti terlampau jauh tentang makna dari semua ini. Namun aku tetap melihatmu adalah yang paling mengurai banyaknya bagian hidup dan hariku. terisi oleh banyak hal yang terlabuh dalam suguhan.
Aku teringat pada setiap dentingan hal kecil yang harusnya aku tatap dengan begitu detail. Aku maknai sepenuh hati bahwa ini bagian dari takdir yang telah mau mengikutiku. Ya Allah... betapa ia begitu begitu dan begitu!
Meski tak banyak isi hati yang sanggup untuk aku utarakan padanya. Meski banyak desiran rindu dibalik waktu. Meski banyak tetesan dipelupuk mata yang entah kapan akan ia tahui. Meski banyak goresan kata yang sampaikan terulur tak sengaja kepada yang bukan hatiku.
Namun aku memahami, tak mudah membuat ia terbiasa memaknai.
Mungkin jika dia tahu tak akan aku merasakan apa yang selalu ingin aku beritahu kepadanya.
Tuhan ingin aku berjuang!
Biarpun aku menitikkan banyak tetesan peluh, biarpun banyak ketakpastian yang mengeluhkan piluku. Aku yakin ini jalan juangku.
Disana, disudut ruang hatinya, yang entah kapan bisa terisi oleh padanan hatiku. Nyatanya sempat menghujatku cukup dalam. Kapan kapan dan kapan aku bisa rasai itu.
Ahh... apa ini? Ambisi kah? Egokah? Lelah?
dibalik jeruji harap
entah kapan kau tahu aku disini, mendampingi sisi tembokmu....